Cerita Indah Perihal Kebodohan

Cerita Indah Perihal Kebodohan

Kau memang selalu mampu menyusun kata dengan indahnya, Moron Sayang. Itu yang membuat Sillywati menyimpan Moron di relung hati pertemanan dengan baiknya. Meskipun Sillywati kelihatannya seperti hilang di telan bumi atau mungkin memang terlalu sibuk dengan hidupnya yang mulai gamang. Tapi yakinlah Sillywati selalu mengingatmu dengan segala kepolosanmu. Sejauh ini belum ada yang menggantikannya.

Tak akan pernah Sillywati lupa ketika kita berlari kecil di tepian dan tertawa tergelak melihat wajah Stupidanto yang kebingungan saat mencari kita berdua. Atau berbincang sedikit berbisik tentang begitu bodohnya Stupidanto padahal kita tau ia berada sangat dekat dengan kita. Lucu sekali, iya kan? 😆

Cerita itu memang berlalu. Benih dan kuncupnya sempat berkembang kemudian melayu, sejalan dengan kebodohan Stupidanto yang terus menerus ia tanamkan di otak dan hatinya. Ia layak digelari Lelaki Bodoh.

Beribu menit lalu angin menyerukan dengan lantang bahwa Stupidanto akan naik ke pelaminan, tidak ada kejutan apalagi kecewa. Hati Sillywati telah bisa meredam dengan sendirinya. Karena telah lama ia persiapkan untuk kemudian ia lepaskan. Membiarkan Stupidanto bersama dengan kebodohannya di sana. Lalu angin berseru lagi bahwa Stupidanto mencarinya,  “ah! terlambat” jawab hatinya. Sillywati telah menyeret kakinya ke tapal batas kota walaupun ia sangat tau kota itu lengang. Sedikit kali Sillywati dapat melihat sebuah senyum di sebuah bibir. Namun tak apa, tiba saatnya Sillywati yang harus memamerkan senyum terindahnya pada siapa saja.

Sillywati beranggapan bahwa cerita itu tak akan usai.

About n t a n™

blogger | budget traveller | food admirer | karaoke singer | crochet fan | social media slave | addicted to #MotoGP

8 responses to “Cerita Indah Perihal Kebodohan

  1. Keren….mesti ada yg tersinggung nih..:D

    Cerita nya mgk tdk pernah usai, tp cobalah berganti peran menjadi cuma figuran atau jadi pemeran lakon lain. Dan anggaplah mereka berdua itu seperti umumnya mereka yg lain…

  2. Hmmm, tak jauh beda dengan tokoh Sillywati. Been there. :))

    Kini senyumku selebar senyum Sillywati di kota sepi, kok.

  3. *peluk2 ntan*
    butuh bahu? hihihi.. ndak disewakan ji =))

  4. @rusle: jangan daeng, bahaya nanti. berharap tidak ada yang tersummon🙂

    saya juga menunggu wangsit untuk cerita berikutnya😀

  5. @rara: makasih, Ra. ah! jadi malu sayah =))

  6. lelindra

    tersenyumlah selalu sillywati …

  7. mama indah

    masih banyak yg bisa membuatmu tersenyum say….

Leave your Respond

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

Twitter Updates

Member of

banner angingmammiri

BlogFam Community

%d bloggers like this: