Silaturahim kala Idul Fitri

Bulan Suci Ramadhan yang terlewati beberapa hari kemaren, membawa kita kepada bulan Syawal yang diawali dengan Idul Fitri (1 Syawal). Di tahun 1430 H, puasa yang dijalani tidak genap 30 hari seperti biasanya hanya selama 29 hari.

Diwajibkannya puasa atas ummat Islam mempunyai hikmah yang dalam. Yakni merealisasikan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebagaimana yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 183:

“Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalain bertakwa.”

Setelah berjamaah melakukan sholat 2 rakaat. Seluruh ummat bersalam-salaman, bermaaf-maafan dan saling bersilaturahim. Baik secara langsung maupun media karena terbatas oleh jarak dan waktu. Namun ada baiknya bila dilakukan secara langsung. Itu mengapa budaya mudik (pulang ke kampung halaman) sangat kental.

Tapi ada cuil hal yang mengganggu saya selama ini. Tak jarang teman, keluarga, orang tua atau bahkan kita sendiri menyebut kata “Silaturahim” dengan “Silaturahmi”. Yang sebenarnya Silaturahim adalah kata majemuk yang terambil dari kata shilat dan rahim. Kata shilat berakar dari kata yang berarti “menyambung”, dan “menghimpun”. Ini berarti bahwa hanya yang putus dan yang berseraklah yang dituju oleh kata shilat. Sedangkan kata rahim pada mulanya berarti “kasih sayang” kemudian berkembang sehingga berarti pula “peranakan” (kandungan), karena anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang.

Untuk saya sendiri, silaturahim bukan sekedar mengunjungi dan bermaaf-maafan tapi lebih kepada menjalin ukhuwah (hubungan) yang semakin kuat kepada seluruh umat, bahkan pada pemeluk agama yang berbeda sekalipun.

Secara harfiah, silaturahim tidak hanya bermakna menyambungkan tali kasih sayang. Akan tetapi, lebih jauh mempunyai potensi untuk mengubah bangunan-bangunan sosial yang ada bila dilakukan secara intensif, memiliki kekuatan informatif, dan teratur.

Dan mengutip lebih jauh bahwa kata Silaturahim mempunyai makna spiritual dan historis yang tinggi.

Untuk itu, dalam nuansa Idul Fitri maka saya menghaturkan maaf atas segala salah dan khilaf yang terjadi di dunia maya selama ini karena dunia ini telah menjadi bagian dari hidup saya. Meskipun kita hanya dipertemukan dengan tulisan. Semoga jalinan pertemanan dan dinamika pada dunia ini, terus mengasah sisi positif diri kita semua. Amin

Artikel terkait :

About n t a n™

blogger | budget traveller | food admirer | karaoke singer | crochet fan | social media slave | addicted to #MotoGP

Leave your Respond

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

Twitter Updates

Member of

banner angingmammiri

BlogFam Community

%d bloggers like this: